Tetap Bersyukur 1

akhir bulan november masih terasa panjang, keuangan sudah benar tipis hampir habis, sudah ketarik lagi yang harusnya ditabung malah ikut ke pakai lagi untuk bulan ini. keperluan yang tidak terduga tiba-tiba muncul. belum ini dan itu, mau silaturokhim ke saudara malu kalau tidak bawa apa-apa.

jumat pagi seperti biasa menjalani rutinitas seorang ayah yang baru memiliki anak kecil aku mulai dengan mencuci baju setalah sebelumnya direndam dengan diterjen oleh istri. setelah selesai mencuci tidak langsung di jemur tapi gantian tugas istri yang menjemur, aku langsung mengerjakan kerjaan lain, memasak untuk dimakan bersama, bukan karena istri tidak bisa masak tapi karena kita sering membagi-bagi tugas agar bisa saling bekerjasama dan saling berbagi kesibukan sambil mengurus anak. hidup mandiri setelah menikah menjadi pilihan kami untuk menjadi keluarga yang mandiri tanpa campur tangan orang tua lagi. dengan kemampuan seadanya kita berusaha bekerjasama saling membantu dan menolong dalam setiap aktivitas termasuk mengurus anak kami secara mandiri sejak usianya baru berusia 21 hari.

aku mulai dengan memasak nasi di majicom, aku lihat sisa beras yang hanya tinggal 2gelas takaran, itupun tidak penuh, aku habiskan dan masak semua. rasanya belum seminggu lalu aku beli beras 3kg untuk jaga-jaga kebutuhan sampai dapat gajian lagi, ternyata tidak cukup untuk 10hari, mungkin karena porsi makan kami yang bertambah karena aktivitas yang juga semakin padat sehingga banyak mengeluarkan energi dan harus banyak asupan energi baru. selesai memasak nasi aku pergi ke warung untuk membeli sayuran dan lauk. tidak setiap hari aku pergi ke warung sendiri, biasanya juga jika istri tidak sibuk mengurus pekerjaan yang lain istrilah yang berangkat membeli lauk dan sayuran. untuk menu masakan biasanya kita sudah lebih dulu berkoordinasi di malam harinya, “besok masaka apa ayah?”, besok masak apa bunda?” kami saling bertanya jika sore hari menjelang atau ketika makan malam bersama. saat makan malam biasanya pertanyaan itu tiba-tiba muncul disela-sela kelahapan kita makan malam dan disela-sela perbincangan kami membicarakan hal yang lain.

cukup membawa uang 16.000rb untuk belanja, aku rasa sudah cukup mendapatkan lauk dan sayuran, biasanya paling belanja paling banyak 25.000 jika masak daging ayam, dan paling murah dibawah 10000 jika cuma masak tempe dan sayur sop. beli kentang, tahu dan bumbu balado cuma habis 11.000, sesuai perkiraan. sampai dirumah aku mulai memasak, menyiapkan ini dan itu sementara istri sibuk dengan pekerjaan lain, dia mulai menyapu lantai dan mengepelnya, tidak setiap hari lantainya di pel tapi cukup 2hari sekali, meskipun ruangan kosan kami tidak terlalu lebar aku melarang istri mengepel lantai setiap hari, aku merasa kasian jika istri banyak melakukan kegiatan beres-beres rumah, takut terlalu capek dan sakit, tidak bisa mengurus anak kami dengan baik.

menjadi karyawan pabrik dengan gaji UMR kota dan hidup mengontrak dengan anak dan istri sementara istri juga masih kuliah di tingkat akhir, kalau di itung-itung mungkin gaji buruh tidak akan cukup, tidak akan cukup menutupi semua keperluan belanja keluarga, harus pandai mengatur dan menahan keinginan. tidak memulu memuaskan diri dengan membeli ini dan itu, harus menunggu beberapa bulan sampai uang terkumpul dalam tabungan untuk bisa membeli sesuatu. kadang merelakan tabungan untuk diambil demi diberikan keperluan orang tua maupun adik-adik saat datang kerkontrakan ataupun saat silaturohim ke rumah saudara. begitulah resiko hidup mandiri, hidup baru dalam rumahtangga yang baru seumur jagung, pilihan hidup yang sulit yang aku pilih.

disaat seperti ini aku terkadang merasa iri kepada orang-orang disekitar yang memiliki kehidupan yang mungkin terlihat lebih mudah, tapi disisi lain aku merasa malu pada mereka-mereka yang memiliki hidup dalam kesulitan, bagimana saudara-saudara kita yang tidak memiliki rumah, tidak memiliki uang untuk mengontrak tempat tinggal, mereka yang kesulitan mencari air bersih, mereka yang kesulitan mencari pendidikan, sulit menemukan ketenangan karena sering terkana bencana alam, maupun dalam situasi perselisihan. malu pada mereka yang hidup dalam keterbatasan tapi mampu berjuang menjalani hidup dengan penuh kesungguhan dan tanpa berputus asa, mereka tetap yakin akan kehadiran Alloh sang pencipta yang memberikan ujian yang tidak akan melebihi kemampuan hamba NYa.

Alhamdulillah hari ini masih diberi kesempatan untuk beribadah, untuk berdoa dan memohon kebaikan, masih diberi nikmat iman dan islam untuk bersyukur, masih diperkenankan untuk berupaya memperbaiki diri, mencari dan memahami arti kehidupan didunia ini, masih dibekali semangat dan tubuh yang sehat untuk berbuat sesuatu. inilah hidupku, pilihan hidup dan ketetapan yang harus aku jalani dengan sabar dan syukur, dan aku selalu percaya bahwa Alloh adalah sebaik-baiknya yang merencanakan segala sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s